Jumat, 21 Januari 2011

Islam di Belanda

 : Wikipedia

Penduduk Islam Belanda adalah pelbagai. Salah satu kumpulan pertama yang menumbuhkan sebuah tempat tetap di Belanda adalah orang-orang yang berasal dari Indonesia. Pada waktu itu, Indonesia adalah tanah jajahan Belanda dan orang-orang dari Indonesia dibenarkan untuk belajar di Belanda.
Pada dekad-dekad 1970-an dan 1980-an, Belanda memerlukan tenaga kerja yang lebih besar dan terpaksa mencarikannya di luar sempadan. Orang-orang dari Turki, Maghribi, Algeria, dan sebilangan negara Islam yang lain dibenarkan tinggal di Belanda secara sementara. Bagaimanapun, kebanyakan mereka tinggal secara tetap dan memulakan kehidupan yang baru di negara ini. Oleh itu, komuniti Islam di Belanda berkembang dengan ketara.
Sebuah tinjauan pendapat terkini oleh Motivaction/GPD yang melibatkan 1,200 orang dewasa Belanda (+/- 3%) mendapati bahawa pada bulan Mei 2006, 63% daripada warganegara Belanda berasa bahawa agama Islam adalah tidak secocok dengan kehidupan Eropah moden. [1]


Keadaan Demografi

Menurut Biro Statistik Pusat (CBS), sebuah syarikat kerajaan Belanda, 5.8% daripada jumlah penduduk Belanda adalah Muslim (1 Januari 2004):
"Terdapat 945,000 orang Muslim yang tinggal di Belanda pada 1 Januari tahun ini (2004), dua kali lebih banyak daripada jumlahnya pada tahun 1990, Biro Statistik Pusat (CBS) berkata hari Isnin. Bilangan ini dijangka akan mencapai 1 juta pada tahun 2006...."
"Komuniti Islam terdiri daripada 5.8% jumlah penduduk Belanda pada 1 Januari 2004 dan bilangannya akan bertambah pada tahun-tahun yang akan datang. CBS menjangka bahawa bilangan Muslim di Belanda akan melebihi sejuta orang pada tahun 2006." [2] [3]

Rujukan

  1. Laman web Angus-Reid: Islam tidak secocok dengan Eropah, kata Belanda.
  2. Komuniti Islam Belanda akan mencapai 1 juta pada tahun 2006.
  3. Hampir sejuta Muslim di Belanda.


Islam mengikut negara

Mecca skyldie.jpg
Islam di Afrika
Afrika SelatanAlgeriaAngolaBeninBotswanaBurkina FasoBurundiCameroonCape VerdeChadComorosDjiboutiEritreaGabonGambiaGhanaGuineaGuinea-BissauGuinea KhatulistiwaHabsyahCôte d'IvoireKenyaLesothoLiberiaLibyaMadagascarMaghribiMalawiMaliMauritaniaMauritiusMesirMozambiqueNamibiaMesirNigerNigeriaRepublik  Afrika TengahRepublik CongoRepublik  Demokratik  CongoRwandaSahara Barat (Republik Demokratik Arab  Sahara)São Tomé dan PríncipeSenegalSeychellesSierra LeoneSomaliaSudanSwazilandTanzaniaTogoTunisiaUgandaZambiaZimbabwe
Islam di Asia
AfghanistanArab SaudiArmeniaAzerbaijanBahrainBangladeshBhutanBruneiChina (Republik China (Hong KongMacau)• (Taiwan)• CyprusEmiriah Arab BersatuFilipinaGeorgiaIndiaIndonesiaIranIraqIsrael dan PalestinJepunJordanKazakhstanKembojaKorea (Korea UtaraKorea  Selatan)• KuwaitKyrgyzstanLaosLubnanMalaysiaMaldivesMongoliaMyanmarNepalOmanPakistanQatarRusiaSingapuraSri LankaSyriaTajikistanThailandTimor  TimurTurkmenistanUzbekistanVietnamYaman
Islam di Eropah
AlbaniaAndorraArmeniaAustriaAzerbaijanBelandaBelarusBelgiumBosnia dan HerzegovinaBulgariaCroatiaCyprusDenmarkEstoniaFinlandGeorgiaGreeceJermanHungaryIcelandIrelandItaliKazakhstanKota  VaticanLatviaLiechtensteinLithuaniaLuxembourg MaltaMoldovaMonacoMontenegroNorwayPerancisPolandPortugalRepublik   CzechRepublik MacedoniaRomaniaRusiaSan MarinoSerbiaSlovakiaSloveniaSepanyolSwedenSwitzerlandTurkiUkraineUnited Kingdom
Islam di Amerika Utara dan Islam di Amerika Selatan
ArgentinaBoliviaBrazilChileColombiaEcuadorGuyanaPanamaParaguayPeruSurinameTrinidad   dan  TobagoUruguayVenezuelaAmerika Syarikat Antigua dan BarbudaBahamasBarbadosBelizeCosta RicaCubaDominicaEl SalvadorGrenadaGuatemalaHaitiHondurasJamaicaKanadaMexicoNicaraguaPanamaRepublik   DominicaSaint Kitts dan NevisSaint LuciaSaint Vincent dan Grenadines
Islam di Oceania
Australia
Australia
Pulau  Christmas(Keris Mas)Pulau  Cocos(Keeling) Pulau   Norfolk
Melanesia
Fiji
Kepulauan   SolomonNew CaledoniaPapua New GuineaTimor TimurVanuatu
Mikronesia
Guam
KiribatiKepulauan Mariana   UtaraKepulauan   MarshallNauruPalauPersekutuan  Negara  Micronesia
Polinesia
Amerika Samoa
Kepulauan CookNew ZealandNiuePitcairnPolinesia PerancisSamoaTokelauTongaTuvaluWallis dan Futuna


Minggu, 09 Januari 2011

Muslim di Italia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia

Sejarah Islam di Italia bermula pada abad ke-9: ketika Sisilia dan beberapa wilayah di Semenanjung Italia menjadi bagian kekuasaan Ummah Muslim antara tahun 828 (Penaklukkan Muslim Sisilia) dan pada tahun 1300 (kehancuran benteng pertahanan Islam terakhir di Lucera, Puglia), Islam hampir tidak ada lagi di Italia sejak zaman penggabungan negara di tahun 1861 hingga tahun 1970-an, saat dimana gelombang pertama imigran dari Afrika Utara mulai tiba. Bangsa tersebut, umumnya berasal dari bangsa Berber dan Arab, yang kebanyakan datang dari Maroko. Sebagian juga datang dari Albania, dan beberapa tahun kemudian, mereka juga diikuti oleh orang-orang Mesir, Tunisia, Senegal, Somalia, Pakistan dan lain-lain.[1]
Saat ini, terdapat 60.000 orang berkebangsaan Italia yang beragama Islam. Mereka merupakan orang asing yang menjadi warganegara Italia dan penduduk asli Italia yang memeluk Islam.
Islam tidak secara formal diperkenalkan oleh negara di Italia disamping menjadi kepercayaan terbesar kedua setelah Katolik. Kepercayaan lain termasuk Yahudi dan grup yang lebih kecil seperti Gereja Sidang-Sidang Jemaat Allah dan Gereja Advent Hari Ketujuh, telah disetujui oleh pemerintah Italia. Pengenalan resmi telah memberikan kepercayaan tersebut sebuah kesempatan menguntungkan dari "pajak agama" nasional yang dikenal sebagai Delapan per seribu.[2]

[sunting] Sejarah

Sejak awal abad ke-7 dan ke-8, sebagian bangsa Lombard, salah satu dari bangsa Jerman yang menguasai sebagian Italia, memilih meninggalkan kepercayaan Arianisme dan memeluk Islam disamping Katolik, sedangkan al-Ankubarti umumnya berjuang sebagai tentara sewaan dalam pasukan Arab di pantai Mediterrania Afrika, khususnya Ifriqiyah-Tunisia, dan juga Saqaliba oleh masyarakat Muslim Arab. Di Palermo Tengah, sebuah distrik diberi nama Saqaliba. Orang Sisilia-Saqaliba terkenal dari abad ke-10 adalah Gawhar Al-Siqilli, seorang pemimpin militer Fatimiyyah dan yang medirikan Cairo. Orang Sisilia-Saqaliba lain, adalah dari bangsa Slavia Sabir al-Fata, yang menaklukkan Taranto dan Otranto di tahun 927.

[sunting] Muslim Arab di Italia

Serangan Arab pertama terhadap Sisilia-Bizantium di tahun 652, 667, dan 720 mengalami kegagalan; Syracuse dapat ditaklukkan untuk pertama kalinya untuk sementara waktu pada tahun 708, namun sebuah invasi yang direncanakan di tahun 740 gagal dilaksanakan karena pemberontakan Berber dari Maghreb yang berlangsung hingga tahun 771 dan perang sipil di Ifriqiyah berlangsung hingga tahun 799. Sardinia bagaimanapun berhasil dikuasai Islam dalam beberapa tahapan pendudukan yang berlangsung pada tahun 711, 720, dan 760 secara berturut-turut. Pulau Italia Pantelleria dapat ditaklukkan oleh bangsa Arab di tahun 700.

[sunting] Muslim di Sisilia

Untuk mengakhiri pemberontakan pasukannya, hakim Aghlabiyyah dari Ifriqiyah mengirimkan para pemberontak Arab, Berber, dan Andalusia untuk menaklukkan Sisilia di tahun 827, 830, dan 875, dengan dipimpin oleh Asad bin al-Furat. Di tahun 902, hakim Ifriqiyah menjadikan dirinya sendiri untuk memimpin pasukan perang untuk bertempur di pulau tersebut. Hakim dari Sisilia, yang memberontak melawan Konstantinopel, dijuluki oleh kaum Muslim (disebut Saraken oleh orang Eropa) sebagai penolong. Di tahun 831 Palermo jatuh ke tangan mereka, kemudian di tahun 843 diikuti Messina, di tahun 878 Syracuse, di tahun 902 Taormina, di tahun 918 Reggio Calabria di daratan utama, dan di tahun 964 Rometta, dan yang benteng Bizantium terakhir yang tersisa di Sisilia.
Keberhasilan pertanian Sisilia di bawah kekuasaan Arab menjadikan pertanian tersebut terkenal di bidang ekspor. Seni dan kerajinan tangan menjadi berkembang pesat di kota itu. Palermo, ibu kota Arab di pulau itu, memiliki 300.000 penduduk saat itu, lebih banyak dari hasil penggabungan seluruh kota di Jerman. Pada awal abad ke-11, umat Muslim menjadi setengah populasi Sisilia, dengan bangsa Arab mendominasi utara pulau di sekitar Palermo dan bangsa Berber di area sekitar Agrigento di wilayah selatan.

Peperangan di Ostia tahun 849 mengakhiri serangan Arab ketiga di Roma.

[sunting] Emirat di Apulia

Dari Sisilia, bangsa Muslim mulai pindah ke daratan utama dan menguasai Calabria. Di tahun 835 dan kemudian tahun 837, Adipati Naples berjuang melawan Adipati Benevento yang diminta oleh bangsa Muslim untuk membantu. Di tahun 840, kota Taranto dan Bari jatuh ke tangan bangsa Muslim, dan di tahun 841, Brindisi juga mengalami kejatuhan. Capua dapat ditaklukkan, Benevento, yang saat itu di bawah kekuasaan bangsa Frank, dapat dikuasai pada tahun 840-847 dan tahun 851-52. Serangan bangsa Arab terhadap kota Roma pada tahun 843, 846 dan 849 berhasil digagalkan. Pada tahun 847, kota Taranto, Bari dan Brindisi menjatakan menjadi emirat independen dari Aghlabiyyah. Selama beberapa dekade, bangsa Muslims memerintah Mediterrania dan menyerang kota-kota pesisir Italia. Di tahun 868-870, kota Ragusa di Sisilia masih dalam kekuasaan bangsa Arab.
Hanya setelah kejatuhan Malta tahun 870, Kristen dunia barat berhasil dalam memperbaiki angkatan perang melawan Muslim. Kaisar Franko-Romawi Louis II menaklukkan Brindisi dan menumpas bangsa Arab di Bari tahun 871, namun kemudian jatuh tertawan Aghlabids. Sebagai gantinya, Byzantium menaklikkan Taranto tahun 880. Sejumlah kecil benteng Arab di selatan bertahan hinggan tahun 885, contohnya Santa Severina Crotone di Calabria. Tahun 882, bangsa Muslim dijumpai di mulut Sungai Garigliano antara Naples dan Roma basis baru jauh di utara, yang bersatu dengan Gaeta, dan menyerbu Campania seperti Sabinia di Lazio. Seratus tahun kemudian, Byzantium disebut bangsa Arab Sicilia sebagai pendukung melawan kempanye kaisar Jerman Otto II. Mereka mengalahkan Otto di Taranto tahun 982 dalam pertempuran di Crotone dan dalam 200 tahun berikutnya sebagian besar digantikan dalam mencegah penggantinya sejak memasuki Italia selatan.
Tahun 1002, Bari dikuasai lagi oleh bangsa Arab, namun kemudian dikuasai lagi oleh Byzantium. Melus (Melo), Emir Bari 1009-1019, melawan Byzantium dan dijuluki oleh orang Normandia sebagai penyelamat. Melus, berasal dari Lombard-Arabi, digambarkan sebagai Ismail dalam sulaman emas "Sternenmantel", yang diberikan kaisar Jerman Henry II.
Setelah Aghlabids dikalahkan di Ifriqiya, Sicily jatuh di abad ke-10 kepada pengganti Bani Fatimiyah mereka, namun mengklaim kemerdekaan setelah pertempuran antara Islam Sunni dan Islam Syi'ah dibawah Kalbids.

[sunting] Invasi di Piedmont

Setelah mereka menguasai kekaisaran Visigoth di Spanyol, bangsa Arab dan Barbar 729-765 dari Septimania dan Narbonne melakukan pengepungan di Italia utara, dan tahun 793 menyerbu lagi Perancis selatan (Nice 813, 859 dan 880). Tahun 888 Muslim Andalusia mengubah pasukan baru di Fraxinet dekat Frejus di Provinsi Perancis, dari dimana mereka mengawali pengepungan sepanjang pesisir dan di dalam Perancis.
Tahun 915, setelah Pertempuran Garigliano, bangsa Muslim kehilangan pasukan mereka di selatan Lazio. Tahun 926 Raja Hugh dari Italia memerintah bangsa Arab untuk bertempur mempertahankan Italia utara yg direbut miliknya. Tahun 934 dan 935 Genua dan La Spezia diserang, diikuti oleh Nice di tahun 942. Di Piedmont, bangsa Muslim menempuh sejauh Asti dan Novi, yang bergerak ke utara sepanjang lembah Rhône dan bagian barat Alps. Setelah kekalahan Pasukan Burgundy, Tahun 942-964 mereka menguasai Savoy dan menduduki sebagian Switzerland (952-960). Kota Swiss seperti Saratz tetap menggunakan lambang keberadaan Arab di wilayah itu. Untuk melawan bangsa Arab, Kaisar Berengar I, sainggan Hugh, memerintah bangsa Hungaria, dimana dalam pergerakannya, mereka menghancurkan utara Italia. Dibawah tekanan Raja Jerman, Fraxinet harus menyerah di tahun 972, namun tiga puluh tahun kemudian, di tahun 1002, Genoa diserbu, dan di tahun 1004 Pisa.
Pisa dan Genoa bergabung untuk mengakhiri aturan Muslim hingga Corsica (Islam 810/850-930/1020) dan Sardinia. Sejak 1015 Sardinia dilindungi oleh armada Emir Andalusia Dénia di Spanyol, yang dikalahkan oleh persatuan bangsa Italia tahun 1016 dan kemudian setelah invasinya tahun 1022. Hanya di tahun 1027 bangsa Italia berhasil dalam mengalahkan Muslim Sardinia; pergolahakan Muslim terakhir berakhir tahun 1050.

[sunting] Sisilia dibawah Normandia


Istana lama Emir: Palazzo dei Normanni.

San Giovanni degli Eremiti: Simbiosis Arabia-Byzantium-Normandia

Peta dunia oleh kartografer Morocca al-Idrisi untuk Raja Roger dari Sicily.
Budaya dan perekonomian di Sicily yang berawal di bawah Kalbid terhambat oleh pertempuran dalam, yang diikuti dengan intervensi, tahun 1027, oleh Zirids Tunisia, dan oleh Pisa (1030-1035) dan Byzantium. Sicily Timur (Messina, Syracuse dan Taormina) dikuasai oleh Byzantium tahun 1038-1042. Tahun 1059 kemudian bangsa Normandia dari Italia selatan, dipimpin oleh Roger I, bergabung dalam pertempuran. Bangsa Normandia menduduki Reggio di tahun 1060 (tahun 1027 merebut dari Arab oleh Byzantium). Tahun 1061 Messina jatuh ke tangan Normandia; sebuah invasi oleh Hammadid Algeria untuk memelihara peraturan Islam yang terhambat di tahun 1063 oleh armada Genoa dan Pisa. Kekalahan Palermo tahun 1072 dan Syracuse tahun 1088 tidak dapat dicegah. Noto dan pertahanan Muslim terakhir di Sicily jatuh di tahun 1091. Tahun 1090-91 bangsa Normandia juga menduduki Malta; Pantelleria jatuh di tahun 1123.
Populasi Muslim penting tersisa di Sicily dibawah Normandia.[3][4] Roger II yang menjadi tuan rumah di wilayahnya, bersama yang lain, geografer terkenal Muhammad al-Idrisi dan penyair Muhammad bin Zafar. Saat pertama, umat Muslim bertoleransi dengan bangsa Normandia, namun kemudian tekanan dari Paus menjadikan diskriminasi terhadap mereka meningkat; banyak masjid dihancurkan atau dijadikan gereja. Normandia Sisilia pertama tidak ambil bagian dalam Perang Salib, namun mereka segera melakukan sejumlah invasi dan pemberontakan di Ifriqiya, sebelum mereka dikalahkan disanan setelah tahun 1157 oleh Almohad.
Kehidupan tenang bersama di Sicily akhirnya berakhir dengan kematian Raja William II tahun 1189. Orang Muslim terpilih bermigrasi saat itu. Pengetahuan medis mereka dipertahankan di Schola Medica Salernitana; simbiosis Arabi-Byzantium-Normandia dalam seni dan arsitektur diabadikan sebagai Gaya Arsitektur Roma Sisilia. Pelarian Muslim yang tersisa, menjadi contoh Caltagirone di Sicily, atau bersembunyi dalam gunung dan lanjutan penentangan terhadap Dinasti Hohenstaufen, yang mengatur pulau dari tahun 1194. Dalam tanah kebanggan pulau, Muslim dilafalkan oleh Ibnu Abbad, Emir Sicily terakhir.
Untuk mengakhiri pergolakan ini, kaisar Frederick II,[5] pengikut Perang Salib, manghasut kebijakan "pembersihan" etnis dan agama, berkaitan dengan tekanan Papal namun juga dalam perintah untuk menjadikan kemampuan pasukan loyal yang tidak dapat terpengaruh oleh saingan Kristen (baron lokal dan raja asing, seperti Paus). Tahun 1224-1239 dia mendeportasi 20.000-30.000 Muslim dari Sicily menuju koloni dibawah kendali militer di Lucera di Apulia, kira-kira 20 kilometer barat laut Foggia dan 150 kilometer barat laut Bari. Dia menjadikan koloni otonomi dan mendukung mereka, dengan demikian membantu kebudayaan Muslim di Italia untuk terakhir kalinya. Tahun 1249 dia menolak Muslim dari Malta. Frederick memiliki pasukan pengaman Muslim, berbahasa Arab dan mengenakan Mantel Penobatan yang dibuat oleh penjahit Arab, menyebabkan paus membuangnya sebagai "Sultan Lucera". Saat kematian Frederick, menururt dugaan 60.000 Muslim tinggal di Lucera. Setelah kejatuhan Hohenstaufen dalam Pertempuran Benevento (1266), Muslim bertempur berdampingan dengan Staufer Sisilia, dan pengikut Perang Salib yang kalah pada tahun 1291. Lucera akhirnya dapat dikalahkan tahun 1300 karena hasutan Paus oleh Raja Charles II dari Naples. Populasi Muslim, yang berjumlah kira-kira 100.000, dibunuh dan diperbudak.

[sunting] Ottoman di Otranto


Katedral Lucera: bekas masjid.
Apulia termasuk dalam Kerajaan Naples dan berdiri dibawah peraturan Spanyol sejak pertengahan abad ke-15. Orang Spanyol telah memulai serangan terakhir dalam pendudukan Granada tahun 1481. Tumpuan Islam terakhir di Spanyol menyebabkan keputusasaan untuk dapat membantu semua negara Islam Mediterania.
Kekaisaran Ottoman, di tahun 1453 dibawah Sultan Mehmed II telah memduduki Konstantinopel dan Galata, tahun 1475 tumpuan terakhir Genuas di Laut Hitam dan tahun 1479 Koloni Venetian Euboea di Yunani, tahun 1480 menyelesaikan serangan pengalih keraguan di teritorial Spanyol di Italia selatan, setelah tahun 1479 pasukan Turki telah memasuki Friuli di Italia utara (dan kemudian 1499-1503). Kota pelabuhan Apulia dari Otranto, berlokasi sekitar 100 kilometer tenggara Brindisi, dikuasai dan dirubah untuk digunakan sebagai kepala jembatan bangsa Turks, namun diserahkan lagi tahun 1481, ketika Mehmed meninggal dan Konstantinopel menyaksikan peperangan untuk tahta.
Cem, orang yang mendapat tahta Ottoman, dikalahkan disamping dukungan paus; dia melarikan diri dengan keluarganya Kerajaan Naples, dimana keturunan laki-lakinya dianugrahkan dengan sebutan Principe de Sayd oleh Paus tahun 1492. Mereka tinggal di Naples hingga abad ke-17 dan di Sisilia hingga 1668 sebelum merelokasi ke Malta.

[sunting] Serangan di abad ke-16


Catatan Arab dalam Mantel Penobatan.
Hal ini menjadi perdebatan jika Otranto bermaksud untuk menjadikan pasukan dalam pertempuran berikutnya. Sultan Ottoman tidak pernah menyerahkan ambisi mereka untuk mengakhiri Kristen di Roma dan menerapkan kedaulatan Islam.
Setelah pendudukan Ragusa (Dubrovnik) dan Hungaria tahun 1526 dan kekalahan pasukan Turki di Vienna tahun 1529, pasukan Turki menyerang kembali Italia selatan. Tahun 1512/1526 Ottoman menduduki Reggio dan tahun 1537 bagian Calabria dan di tahun 1538 mengalahkan Pasukan Venesia. Tahun 1539 Nice dikepung oleh bangsa Barbaria (Pengepungan Nice), namun percobaan penguasaan Turki di Sisilia gagal, seperti percobaan pendudukan Pantelleria tahun 1553 dan pengepungan Malta tahun 1565.
Spanyol, penyumbang terbesar untuk kejayaan Kristen „Persaingan Suci“ dalam pertempuran Lepanto tahun 1571 dibuat oleh Republik Venice, antara 1423 (dan khususnya sejak 1463) dan 1718 memerangi delapan perang pantai terhadap Kekaisaran Ottoman.

[sunting] Situasi saat ini

Menurut statistik resmi Italia terakhir, Muslim mencapai sekitar 34% dari 2.400.000 penduduk asing yang tinggal di Italia pada 1Januari 2005.
820.000 penduduk asing tersebut merupakan sejumlah Muslim yang secara resmi bertempat tinggal di Italia, 100.000-150.000 lainnya seharusnya ditambahkan, sebagai keberadaan Muslim, menurut perkirahan tahunan yang disetujui secara luas asosiasi Italia Caritas, sekitar 40% imigran resmi Italia.
Disamping imigran legal menunjukkan minoritas keberadaan Muslim di Italia, isu Islam di Italia saat ini berhubungan dengan beberapa partai politik (khususnya 'Luga Utara' atau 'Lega Lombarda') dengan imigrasi, dan imigrasi ilegal yang lebih spesifik. Imigrasi telah menjadi isu politik yang terbuka, ketika, khususnya di musim panas, laporan muatan kapal imigran ilegal atau program berita dominasi clandestini.
Kepolisian tidak memiliki keberhasilan besar dalam meninterupsi banyaknya ribuan clandestini yang menepi di pantai Italia, terutama karena panjangnya garis pantai Italia semata: total sekitar 8.000 km . Namun, banyak clandestini yang berlabuh di Italia hanya menggunakan Italia sebagai jembatan menuju negara UE lain, karena fakta bahwa Italia tidak memiliki banyaknya peluang ekonomi untuk mereka seperti Jerman atau Perancis, dan kurang lebih iklim yang tidak bersahabat untuk keberadaan mereka, juga dengan ketaatan beragama umat Katolik Italia.
Jumlah Muslim asing yang telah berkedudukan warganegara Italia diperkirakan antara 30.000 hingga 50.000, jika Muslim Italia (dari marga Italia yang sebelumnya termasuk penganut Katolik atau tidak memiliki agama lalu masuk Islam) diperkirakan kurang dari 10.000.
Karena itu, di tahun 2005 jumlah Muslim yang tinggal di Italia diperkirakan menjadi antara 960.000 hingga 1.030.000, dengan perkiraan rata-rata mendekati angka jutaan dimana media Italia sudah mulai mengadopsi yang merujuk pada populasi Muslim di Italia.
Keberadaan Muslim saat ini 1.4% dari populasi Italia, presentase rendah dari negara UE besar lain, dan masih turun dari yang tercatat di Italia antara pertengahan abad ke-9 dan akhir abad ke-13, sebelum perpindahan pesukan Muslim terakhir di Puglia tahun 1300.
Saat zaman Pertengahan, populasi Muslim bertotal hampir berpusat diInsular (Sisilia, Sardinia) dan (Calabria, Puglia) Italia Selatan, saat ini lebih rata penyebarabbya, yang hampir 55% Muslim mendiami Utara Italy, 25% di Pusat, dan hanya 20% di Selatan.
Harus dikatakan bahwa disamping 'Invasi Muslim' tiruan, Muslim membentuk proporsi rendah imigran kemudian di tahun selanjutnya, ketika laporan statistik terakhir Mentri Italia Interior dan Caritas menunjukkan bahwa bagian Muslim antar imigran baru merosot dari lebih 50% awalnya di tahun 1990-an (umumnya Albanian dan Moroccan) menjadi kurang dari 25% di dekade selanjutnya, dengan Negara non-Muslim seperti Rumania, Moldavia, dan Ukrainayang mempolopori "gelombang" imigrasi terakhir.
Ukuran kecil relatif komunitas Muslim lokal berarti bahwa Islam telah membuat dampak penting pada kehidupan publik, namun terdapat tanda bahwa perubahan. Titik saat ini pergolakan antara Italian asli dan populasi imigran Muslim meliputi keberadaan salib di rusang kelas sekolah dan kamar rumah sakit Italia. Adel Smith talah menarik media pertimbangan dengan menuntut bahwa salib di tempat publik (sekolah, rumah sakit, dan kantor pemernitah) dipindahkan. Konsili Negara Italia, dengan jumlah kalimat 556, 13 Februari 2006 , mengkonfirmasi pajangan salib dalam dukungan pemerintah ditempatkan.
Jika non-Kristen mungkin tidak melihat ini sebagai alasan untuk menjadikan salib wajib dalam institusi negara, banyak Muslim juga telah menyatakan oposisi mereka untuk memindahkan salib karena mereka tidak menemukan mereka mengganggu. Mereka mengutip fakta bahwa banyak negara dengan Muslim mayoritas, hal ini umum dijumpai anak panah dalam ruang hotel yang menandakan arah Mekah, dan bahwa ini tidak dibuat bahan perdebatan oleh non-Muslim.

[sunting] Lihat pula

Cheng Ho - Peran Muslim Cina dalam Penyebaran Islam di Nusantara

by Kosasih Iskandarsjah   
Image
Cheng Ho (Zheng He)
Cheng Ho (Zheng He) adalah seorang Muslim Cina yang hidup sekitar abad XV. Selama hidupnya Cheng Ho melakukan petualangan antarbenua sebanyak tujuh kali berturut-turut dalam kurun waktu 28 tahun (1404 - 1433), tak kurang ke 30 negara di Asia, Timur Tengah dan Afrika. Cheng Ho lahir pada tahun 1371 berasal dari propinsi Yunan sebagai seorang Hui (etnis Cina yang muslim). Kakeknya seorang haji dan ayahnya, Mahazi, juga seorang haji. Sewaktu kaisar Dinasti Ming mencanangkan program pengembalian kejayaan Cina setelah kejatuhan dinasti Mongol (1368), Cheng Ho yang telah menjadi perwira kerajaan menawarkan diri untuk mengadakan muhibah ke berbagai penjuru negeri.
Ekspedisi Cheng Ho ke Samudra Barat (Laut Cina Selatan) sampai Afrika mengerahkan armada yang sangat besar. Pertama mengerahkan 62 kapal besar dan belasan kapal kecil yang digerakkan oleh 27.800 awak. Adapun perlayaran ke-7 terdiri dari 61 kapal besar dengan 27.550 awak.
Armada Ming dibawah komendo Cheng Ho memulai ekspedisinya pada tahun 1405, dimulai dengan menunaikan shalat di masjid tua di kota Quanzhou (propinsi Fujian). Pelayaran pertama ini mencapai Asia Tenggara (semenanjung Malaya, Sumatra, dan Jawa). Ketika berkunjung ke Samudra Pasai, dia menghadiahi Lonceng Raksasa Cakradonya kepada Sultan Aceh. Lonceng tersebut kini tersimpan di museum Banda Aceh.
Pada tahun 1415 Cheng Ho singgah di Muara Jati (Cirebon) dan beberapa cendera mata dipersembahkan kepada Sultan Cirebon. Satu piring bertuliskan Ayat Kursi saat ini masih tersimpan di keraton Cirebon. Perjalanan dilanjutkan ke Tuban (Jawa Timur) dan kepada warga pribumi, Cheng Ho mengajarkan tata cara pertanian. Demikian pula sewaktu singgah di Gresik.
Kunjungan dilanjutkan ke Surabaya yang jatuh pada hari Jum'at dan Cheng Ho mendapat kehormatan menyampaikan khotbah di hadapan warga Surabaya. Selanjutnya pada kunjungan ke Mojokerto (pusat kerajaan Majapahit), Cheng Ho beraudiensi dengan raja Majapahit waktu itu, Wikramawardhana.
The Great Voyages of Zheng He


Sabtu, 08 Januari 2011

Muslim di Australia

Sejarah yang panjang dan dinamis

Muslim di Australia memiliki sejarah yang panjang dan bervariasi yang diperkirakan sudah hadir sebelum pemukiman Eropa. Beberapa pengunjung awal Australia adalah Muslim dari Indonesia timur. Mereka membangun hubungan dengan daratan Australia sejak abad ke 16 dan 17.

Pengunjung Muslim awal — pedagang Makassar

Nelayan dan pedagang Makassar tiba di pesisir utara Australia Barat, Australia Utara dan Queensland. Orang Makassar berdagang dengan Penduduk Asli dan mencari teripang yang mereka jual sebagai makanan di pasar Cina yang menguntungkan.
Bukti-bukti dari pengunjung awal ini dapat ditemukan pada kesamaan beberapa kata bahasa Makassar dan Penduduk Asli pesisir Australia. Lukisan gua Aborijin menggambarkan perahu tradisional Makassar dan sejumlah peninggalan Makassar telah ditemukan di pemukiman Aborijin di pesisir barat dan utara Australia. Perkawinan antara Penduduk Asli dan orang Makassar diyakini pernah terjadi, dan lokasi pemakaman orang Makassar telah ditemukan sepanjang garis pantai.

Penunggang unta Afganistan dan masa colonial

Migran Muslim dari pesisir Afrika dan wilayah pulau di bawah Kerajaan Inggris datang ke Australia sebagai pelaut dan narapidana dalam armada pertama pendatang Eropa pada akhir dasawarsa 1700an. Populasi Muslim semi permanen pertama dalam jumlah yang signifikan terbentuk dengan kedatangan penunggang unta pada dasawarsa 1800an. Datang dari anak-benua India, Muslim ini sangat vital bagi penjelajahan awal pedalaman Australia dan pembentukan layanan perhubungan.
Salah satu proyek besar yang melibatkan penunggang unta Afganistan adalah pembangunan jaringan rel kereta api antara Port Augusta dan Alice Springs, yang kemudian dikenal sebagai Ghan. Jalur kereta api dilanjutkan hingga ke Darwin pada 2004. Para penunggang unta ini juga memegang peran penting dalam pembangunan jalur telegrafi darat antara Adelaide dan Darwin pada 1870 - 1872, yang akhirnya menghubungkan Australia dengan London lewat India.
Melalui karya awal ini, sejumlah kota ‘Ghan’ berdiri di sepanjang jalur kereta api. Banyak dari antara kota-kota ini yang memiliki sedikitnya satu masjid, biasanya dibangun dari besi bergelombang dengan menara kecil. Namun, kehadiran kendaraan bermotor dan transportasi lori bermesin menandai akhir era penunggang unta. Sementara sebagian dari mereka pulang ke negara asalnya, yang lainnya bermukim di daerah dekat Alice Springs dan daerah lain di Australia Utara. Banyak yang menikah dengan penduduk Asli setempat. Keturunan penunggang unta Afganistan sejak itu berperan aktif dalam berbagai komunitas Muslim di Australia.
Sejumlah kecil Muslim juga direkrut dari koloni Belanda dan Inggris di Asia Tenggara untuk bekerja di industri mutiara Australia pada akhir abad ke 19 dan awal abad ke 20. Masjid pertama di Australia didirikan di Marree di sebelah utara Australia Selatan pada 1861. Masjid besar pertama dibangun di Adelaide pada 1890, dan satu lagi didirikan di Broken Hill (New South Wales) pada 1891.

Pasca Perang Dunia Kedua — menuju masyarakat modern serta majemuk

Jumlah umat Islam Australia modern meningkat dengan cepat setelah Perang Dunia Kedua. Pada 1947 - 1971, jumlah warga Muslim meningkat dari 2.704 menjadi 22.331. Hal ini terjadi terutama karena ledakan ekonomi pasca perang, yang membuka lapangan kerja baru. Banyak Muslim Eropa, terutama dari Turki, memanfaatkan kesempatan ini untuk mencari kehidupan dan rumah baru di Australia. Pada Sensus 2006, tercatat 23.126 Muslim kelahiran Turki di Australia.
Migran Muslim Bosnia dan Kosovo yang tiba di Australia pada dasawarsa 1960an memberi sumbangsih penting terhadap Australia modern melalui peran mereka dalam pembangunan Skema PLTA Snowy Mountains di New South Wales. Migran Libanon, banyak dari antara mereka adalah Muslim, juga mulai berdatangan dalam jumlah yang lebih besar setelah pecah perang saudara di Libanon pada 1975. Menurut Sensus 2006, tercatat 7.542 Muslim Australia kelahiran Bosnia dan Herzegovina dan 30.287 kelahiran Libanon.
Muslim Australia sangat majemuk. Pada Sensus 2006, tercatat lebih dari 340.000 Muslim di Australia, di mana dari jumlah tersebut sebanyak 128.904 lahir di Australia dan sisanya lahir di luar negeri. Selain migran dari Libanon dan Turki, negara asal Muslim lainnya adalah:
  • Afganistan 15.965
  • Pakistan 13.821
  • Banglades 13.361
  • Irak 10.039
  • Indonesia 8.656.
Dalam tiga dasawarsa terakhir, banyak Muslim bermigrasi ke Australia melalui program pengungsi atau kemanusiaan, dan dari negara-negara Afrika seperti Somalia dan Sudan.
Masyarakat Muslim Australia saat ini sebagian besar terkonsentrasi di Sydney dan Melbourne. Sejak dasawarsa 1970an, masyarakat Muslim telah membangun banyak masjid dan sekolah Islam dan memberi sumbangsih yang dinamis terhadap rajutan multi-budaya masyarakat Australia.

Perkembangan Muslim di Australia dan agama-agama lain kecuali Kristen 1981-2006


Sumber: Biro Statistik Australia 1981-2006 Sensus Populasi dan Perumahan

Informasi lebih lanjut