Sabtu, 08 Januari 2011

Untuk Cezanne

Para Perempuan Islam Di Kamboja Keluar Dari Sekolah Negeri

 

 

Jumlah perempuan Islam di Kamboja yang keluar dari sekolah negeri,  kian meningkat. Pasalnya mereka tidak merasa bebas menjalankan agamanya,  termasuk menggunakan jilbab. Padahal hal itu  tidak dilarang oleh hukum negeri itu.

Tapi, kelompok Pembangunan Komunitas Islam Kamboja mengatakan, sebagian guru melarang pasa siswinya untuk memakai jilbab dan tidak memberikan waktu untuk sholat.

Khortieth Him melaporkan dari Phnom Penh, dan laporannya disampaikan Sri Lestari.

“Kadang-kadang saya pakai ‘hijab’ atau jilbab tapi kadang-kadang tidak. Karena saya takut dengan reaksi orang-orang. Ada beberapa guru yang membolehkan saya pakai kerudung tapi yang lainnya tidak. Saya ingin sekolah saya mengizinkan saya pakai kerudung dan memberikan waktu untuk sholat.

Itulah Afiny, siswi kelas 1 SMU yang beragama Islam, di daerah perkotaan Phnom Penh. Baru-baru ini dia keluar dari sebuah sekolah negeri dan kini ikut kelas agama.
Sufur, siswi kelas 1 SMP mengatakan, juga bakal berhenti sekolah di akhir tahun ini,karena tidak boleh menggunakan  jilbab di dalam kelas.

“Saya tidak bisa meninggalkan agama saya. Islam sudah menjadi bagian yang penting  hidup saya. Saya takut kalau saya bersalah sama  Allah.

Para perempuan Cham yang beragama Islam di Kamboja, telah lama mengalami diskriminasi dalam hal pendidikan. Pasalnya, keluarga-keluarga miskin lebih mementingkan pendidikan anak laki-lakinya ketimbang pendidikan anak  perempuan mereka.

Rakiyah, ibunda  Afiny mengatakan, akan kembali menyekolahkan anaknya,  kalau dia bebas menjalankan agamanya.

“Saya ingin sekali anak saya mendapatkan pekerjaan yang bagus, tapi saya khawatir dengan agama saya. Kalau anak saya tidak bisa menutupi kepalanya atau sholat di sekolah, saya tidak akan izinkan dia sekolah disana.

Rakiyah menuturkan, orang-orang di sekolah anaknya meremehkannya karena memakai jilbab.  Namun ia menambahkan, anak laki-lakinya tak mengalami masalah seperti itu.

“Anak laki-laki saya tidak perlu menutup kepala ataupun tubuhnya, jadi tidak masalah. Sebagian besar masyarakat disini  punya pandangan yang sama seperti saya. Kami lebih mementingkan pendidikan anak laki-laki kami ketimbang pendidikan anak perempuan kami.

Mariyah,  guru agama Islam di Phnom Penh kecewa karena masyarakat berpandangan seperti itu.

Dia ingin para siswinya mendapatkan pendidikan di sekolah.

“Saya ingin semua siswa-siswi saya mendapatkan pendidikan agama dan juga pendidikan di sekolah negeri. Supaya mereka bisa bertahan hidup dalam dunia yang modern ini. Mereka tidak cukup mendapatkan pendidikan dalam satu bidang saja.“
Memang sulit sekali menemukan perempuan Islam yang lulus dari universitas. Sebagian bahkan tidak bisa membaca ataupun menulis dalam bahasa Khmer, bahasa resmi Kamboja.

Azimah adalah pengecualian karena sudah mendapatkan pendidikan yang tinggi. Namun dia menceritakan, selama di universitas kerap mengalami  kesulitan.

“Keluarga saya miskin sekali waktu saya masih mahasiswa. Banyak yang meremehkan  saya. Selain itu susah sekali sholat dan saya tidak memakai hijab atau jilbab.

Sebagian besar umat Islam di Kamboja adalah petani dan nelayan. Jadi mereka miskin sekali dan tidak bisa menyekolahkan anak-anak mereka sampai tingkat yang tinggi.
Ahmad Yahya adalah Presiden Kelompok Pembangunan Komunitas Islam Kamboja dan anggota parlemen negeri.

Menurut dia, tidak ada hukum yang melarang pemakaian hijab atau kerudung di sekolah. Ahmad Yahya tengah berupaya membujuk para orang tua,  supaya mengizinkan anak-anak perempuan mereka belajar di SMU umum maupun sekolah Islam.

“Kami meminta saudara-saudara kami se-iman untuk menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah negeri untuk mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya. Semenetara itu, harus mendorong anak-anaknya untuk menjadi umat Islam yang baik.

Di akhir pekan atau malam hari,  mereka harus mendorong anak-anak itu untuk belajar agama, supaya tahu soal pengetahuan di dunia ini dan pengetahuan di akhirat.
Afiny dan Sufur, ingin tetap bisa sekolah. Syaratnya, agama dan keyakinan mereka harus dihargai.




Terakhir Diperbaharui  [9 Januari 2011] 

Masji-Masjid di Moskow

Tahukan anda, jika di Moskow juga ada beberapa masjid yang digunakan untuk kegiatan umat islam disana. Masjid-masjid di sana secara umum dapat dibagi menjadi 2 jenis, yakni masjid kuarter – masjid yang hanya dipakai untuk sholat lima waktu dan masjid primer- masjid yang juga digunakan untuk shalat Jumat berjamaah.
Saat ini, di kota Moskow terdapat lebih dari 3 juta umat islam. Dan bagaimana menurut anda, kira-kira  berapa banyak masjid yang benar benar dibutuhkan untuk aktifitas mereka? Dari penelusuran penulis, saat ini di Moskow terdapat tujuh masjid (www.russian-mosques.com) yang tersebar di berbagai sudut kota yakni:
  1. Masjid Dar al-Arqam, di Skladochnaya street
  2. Organisasi Muslim, di Grace street , Laksamana Lazarev, 26
  3. Masjid bersejarah, di Great Tatar, 28
  4. Masjid Tambak, di Rubtsovsk 12
  5. Masjid Yardyam, di Khachaturian street, 8
  6. Masjid Peringatan Moskow, di Minsky street, 2В
  7. Masjid Katedral Moskow, di Vypolzov pereulok, 7
Kita juga dapat menemukan masjid kuarter di bandara domodedovo, Moskow. Masjid itu merupakan satu satunya masjid yang berada di bandara di Moskow.
Dan berikut ini penulis mencoba untuk menyajikan sedikit informasi mengenai beberapa masjid primer yang ada di kota Moskow.
Masjid Yardyam (Мечеть Ярдям)
Alamat : Khacaturyana street, 8. Metro station Otradnoe
Phone : (495) 903-6088
Kubah masjid yang tinggi dan ramping dapat jelas terlihat dari stasiun metro otradnoe. Pembangunan masjid ini dimulai pada musim gugur, oktober tahun 1996 atas inisiatif badan keagamaan tatar “ Hilal “. Masjid ini diresmikan oleh organisasi islam Yardem pada saat perayaan 850 tahun kota Moskow pada 14 September 1997.
Arsitektur asli masjid terdiri atas dua menara. Ini mengingatkan kita pada gaya pembangunan masjid di Asia Tengah, Iran dan negara-negara Muslim lainnya di Timur tengah. Masjid di Otradnoe ini termasuk dalam kompleks bangunan keagamaan dari tiga agama besar di Rusia yakni Kristen, Islam dan Yudaisme.
Masjid Katedral Moskow (Московская Соборная Мечеть)
Alamat : Vypolzov pereulok, 7. Metro station Prospekt mira
Phone : (495) 681-4904 and (495) 684-7908
Pada awal abad XX, komunitas Imam B. Alimov dan H. Akbulatov dari Majelis keagamaan Orenburg mengusulkan pembangunan sebuah masjid baru di Moskow. Kemudian diperoleh ijin pembangunannya dan pada bulan November 1904, kurang dari setahun setelah mendapat lahan, berhasil dibangun sebuah masjid di jalur Vypolzovo dengan arsitek N. Zhukov atas dukungan keuangan dari dermawan S. Erzin.
Setelah tahun 1937, Masjid Agung Tatarstan ditutup. Lalu berdirilah masjid baru yang dikenal sebagai Katedral. Di lokasi masjid terdapat pusat sentral kegiatan umat islam yang tidak hanya bagi penduduk muslim ibukota melainkan untuk umat islam Eropa Timur. Beberapa bangunan disana merupakan sentral kegiatan muslim seperti  Manajemen Keagamaan Muslim Rusia (Doumer) serta Perguruan Tinggi Islam Rusia. Pintu masjid selalu terbuka untuk semua umat islam dan untuk orang-orang berhati baik serta pikiran yang murni.
Masjid Peringatan (Мечеть Мемориальная)
Alamat : Minskaya street, 2B. Metro station Park Pabedey
Phone : (495) 449-8113
Masjid ini terletak di puncak sebuah bukit dimana banyak orang disana bersujud seraya berdoa sambil menghadap ke kota Moskow. Masjid ini dibangun untuk menghormati tentara muslim yang gugur di medan perang untuk kemenangan saat Great Patriotic War,  selang tahun 1941-1945. Arsitek masjid adalah seorang arsitek Moskow, Elias Tazhiev. Penampilan masjid ini merupakan gabungan gaya arsitek dari Islam Timur seperti Tatar, Uzbekistan dan Kaukasia. Masjid ini telah menjadi salah satu elemen arsitektur yang paling asli di ibukota.
Masjid Sejarah Moskow (Мечеть Московская Историческая)
Alamat : Great Tatar street, 28. Metro station Tretyakovskaya
Phone : (495) 951 8448
Muslim kota Moskow pada tahun 1813 mendapat ijin pembangunan sebuah masjid. Pemberian ijin ini merupakan tanda jasa bagi para tentara muslim Tatar-Bashkir dalam Perang Patriotik tahun 1812. Pada tahun 1823, muslim ibukota diizinkan untuk membangun masjid pada area milik saudagar Nazarbaya Hamalova. Pada tahun 1881, masjid direkonstruksi dengan membangun sebuah menara dan kubah.
Sampai awal abad XX, Masjid Agung Tatar merupakan satu-satunya tempat ibadah di Moskow bagi umat muslim. Di masjid ini, didirikan sebuah panti asuhan dan madrasah, dan pada tahun 1914, di sekitar masjid dibangun sebuah gedung bertingkat (rumah asadullaeva) yang didanai oleh pengusaha tambang Shamsi Asadullayev. Rumah Asadullaeva ini kemudian menjadi pusat budaya dan pendidikan Islam Moskow sebelum masa revolusi. Sampai tahun 1930-an, aktifitas masjid masih berjalan. Dan pada tahun 1936, Imam Masjid Agung Tatar, Abdullah Tatar Shamsutdinov (1878-1937), ditangkap. Setelah peristiwa penangkapan itu masjid langsung ditutup.
Kebangkitan masjid itu dimulai pada tahun 1991 ketika masyarakat ”Bayt Allah” mendapatkan garansi atas penggunaan gedung untuk aktifitas. Seorang Syeikh dari Arab telah membantu kebangkitan kembali masjid itu. Dana diperoleh dari salah satu perusahaan konstruksi di Turki. Dan Pada Mei 1993, masjid tersebut dibuka kembali untuk seluruh umat islam.
This entry was posted in News. Bookmark the permalink.

Rabu, 29 Desember 2010

Sekilas Walisongo

Walisongo berarti
sembilan orang wali
Mereka adalah Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan
Bonang, Sunan Dradjad, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, serta
Sunan Gunung Jati. Mereka tidak hidup pada saat yang persis bersamaan.
Namun satu sama lain mempunyai keterkaitan erat, bila tidak dalam ikatan
darah juga dalam hubungan guru-murid
Maulana Malik Ibrahim yang tertua. Sunan Ampel anak Maulana Malik
Ibrahim. Sunan Giri adalah keponakan Maulana Malik Ibrahim yang berarti
juga sepupu Sunan Ampel. Sunan Bonang dan Sunan Drajad adalah anak Sunan
Ampel. Sunan Kalijaga merupakan sahabat sekaligus murid Sunan Bonang.
Sunan Muria anak Sunan Kalijaga. Sunan Kudus murid Sunan Kalijaga. Sunan
Gunung Jati adalah sahabat para Sunan lain, kecuali Maulana Malik
Ibrahim yang lebih dahulu meninggal.
Mereka tinggal di pantai utara Jawa dari awal abad 15 hingga pertengahan
abad 16, di tiga wilayah penting. Yakni Surabaya-Gresik-Lamongan di
Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, serta Cirebon di Jawa
Barat. Mereka adalah para intelektual yang menjadi pembaharu masyarakat
pada masanya. Mereka mengenalkan berbagai bentuk peradaban baru: mulai
dari kesehatan, bercocok tanam, niaga, kebudayaan dan kesenian,
kemasyarakatan hingga pemerintahan.
Pesantren Ampel Denta dan Giri adalah dua institusi pendidikan paling
penting di masa itu. Dari Giri, peradaban Islam berkembang ke seluruh
wilayah timur Nusantara. Sunan Giri dan Sunan Gunung Jati bukan hanya
ulama, namun juga pemimpin pemerintahan. Sunan Giri, Bonang, Kalijaga,
dan Kudus adalah kreator karya seni yang pengaruhnya masih terasa hingga
sekarang. Sedangkan Sunan Muria adalah pendamping sejati kaum jelata.
Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya
Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol
penyebaran Islam di Indonesia. Khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh
lain yang juga berperan. Namun peranan mereka yang sangat besar dalam
mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan
masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat “sembilan
wali” ini lebih banyak disebut dibanding yang lain.
Masing-masing tokoh tersebut mempunyai peran yang unik dalam penyebaran
Islam. Mulai dari Maulana Malik Ibrahim yang menempatkan diri sebagai
“tabib” bagi Kerajaan Hindu Majapahit; Sunan Giri yang disebut para
kolonialis sebagai “paus dari Timur” hingga Sunan Kalijaga yang mencipta
karya kesenian dengan menggunakan nuansa yang dapat dipahami masyarakat
Jawa -yakni nuansa Hindu dan Budha.


Quote:

1.Maulana Malik Ibrahim
Beliau keturunan Arab,berasal dari Turki.datang ke Jawa Timur tahun
1379,meninggal tahun 1419,dan dimakamkan di Gresik.Selain menguasai
ilmu-ilmu agama secara mendalam dan sempurna,Maulana Malik Ibrahim juga
ahli dalam bidang tata Negara.Penyebaran Islam secara halus,tidak
menentang adat istiadat penduduk asli yang masih memeluk agama Hindu
ataupun Buddha.beliau melakukan dakwah di Pulau Jawa bagian Timur.

Quote:

2.Sunan Ampel
Sunan Ampel berasal dari Jeumpa,Aceh,dengan nama kecil Raden Ahmad Ali
Rahmatullah atau lebih dikenal dengan Raden Rahmat. Beliau datang ke
Jawa pada tahun 1421 M, menggantikan Maulana Malik Ibrahim yang wafat
tahun 1419 M.
Beliau mendirikan pesantren di Ampel Denta,Surabaya.Sunan Ampel juga
ikut mendirikan Masjid Agung Demak pada tahun 1479 dan merupakan salah
seorang perencana berdirinya Kerajaan Islam Demak. Sunan Ampel
dimakamkan di Ampel Surabaya.


Quote:
3.Sunan Drajad
Sunan Drajad adalah putra Sunan Ampel,lahir di Surabaya,dengan nama
kecil Raden Qosim. Beliau pencipta Gending pangkur,dan penyebar Islam
yang berjiwa sosial dan dermawan.Sunan Drajad dimakamkan di daerah
Lamongan.

Quote:

4.Sunan Bonang
Sunan Bonang adalah putra Sunan Ampel,lahir di Surabaya tahun 1465,
dengan nama kecil Raden Makdum. Sunan Bonang wafat tahun 1525,dimakamkan
di Tuban. Beliau pencipta Gending Durma.

Quote:

5.Sunan Giri
Syekh Maulana Ainul Yakin, dengan nama kecilnya Raden Paku,adalah putra
Syekh Maulana Ishak yang mendirikan pesantren di Giri, sehingga lebih
popular dengan sebutan Sunan Giri. Sunan Giri menyebarkan agama islam
tidak hanya di Jawa,tetapi juga ke pulau-pulau sekitar Jawa Timur,bahkan
sampai Maluku. Beberapa Kyai dari Giri diundang ke Maluku untuk menjadi
guru-guru agama.Sunan Giri adalah pencipta Gending Asmaradana dan
Gending pucung. Beliau pencipta permainan anak-anak yang berjiwa
islam,seperti Ilir-ilir,Jamuran ,dan Cublak cublak Suweng .

Quote:

6.Sunan Kalijaga
Nama kecil Raden Mas Syahid. Beliau lahir di Tuban,Jawa Timur,sebagai
putra Tumenggung Sahur Wilatikta,Adipati Tuban.Beliau adalah seorang
Wali,mubalig,pejuang,pujangga,dan filsuf yang berjiwa besar. Beliau
menyiar agama Islam mellui cerita Wayang.Sunan Kalijaga dimakamkan di
Kadilangu,dekat Demak.

Quote:

7.Sunan Kudus
Nama kecil Sunan Kudus adalah Sayyid Ja’far Shodiq, berasal dari
Palestina. Beliau datang ke Jawa pada tahun 1436 M. Daerah penyebar
Islam di pesisir Jawa Tengah.Beliau seorang pujangga,pandai
menagarang,pencipta Gending Mas Kumambang dan Gending Mijil,Pernah jadi
Sanapati Kerajaan Islam Demak.

Quote:

8.Sunan Muria
Sunan Muria adalah putra Sunan Kalijaga,dengan nama kecil Raden Umar
Said. Beliau ikut mendirikan Masjid Demak dan ikut membantu berdirinya
Kerajaan Islam Demak. Beliau menciptakan Gending Sinom dan Gending
Kinanti untuk kepentingan dakwah. Beliau wafat dan dimakamkan di puncak
Gunung Muria.

Quote:

9.Sunan Gunung Jati
Syarif Hidayatullah atau lebih popular dengan sebutan Sunan Gunung Jati,
berasal dari Palestina. Datang ke Pulau Jawa pada tahun 1436 M.Beliau
mempunyai nama sangat banyak,antara lain Fatahilah,Muammad
Nurudin,Faletehan,Syah Nurullah,Makhdum Jati,dan Makhdum
Rakhmatullah.Beliau diangkat sebagai Panglima Perang Kerajaan Demak dan
ditugaskan di Jawa Barat.Beliau mendirikan kesultanan Banten dan
Kesulatan Cirebon. Sunan Gunung Jati wafat dan dimakamkan di Gunung Jati
Cirebon.

SYEKH SITI JENAR

Syekh Siti Jenar lahir sekitar tahun 829 H/1348 C/1426 M (Serat She Siti Jenar Ki Sasrawijaya; Atja, Purwaka Tjaruban Nagari (Sedjarah Muladjadi Keradjan Tjirebon), Ikatan Karyawan Museum, Jakarta, 1972; P.S. Sulendraningrat, Purwaka Tjaruban Nagari, Bhatara, Jakarta, 1972; H. Boedenani, Sejarah Sriwijaya, Terate, Bandung, 1976; Agus Sunyoto, Suluk Abdul Jalil Perjalanan Rohani Syaikh Syekh Siti Jenar dan Sang Pembaharu, LkiS, yogyakarta, 2003-2004; Sartono Kartodirjo dkk, [i]Sejarah Nasional Indonesia, Depdikbud, Jakarta, 1976; Babad Banten; Olthof, W.L., Babad Tanah Djawi. In Proza Javaansche Geschiedenis, ‘s-Gravenhage, M.Nijhoff, 1941; raffles, Th.S., The History of Java, 2 vol, 1817), di lingkungan Pakuwuan Caruban, pusat kota Caruban waktu itu, yg sekarang lebih dikenal sebagai Astana japura, sebelah tenggara Cirebon. Suatu lingkungan yg multi-etnis, multi-bahasa dan sebagai titik temu kebudayaan serta peradaban berbagai suku.
Selama ini, silsilah Syekh Siti Jenar masih sangat kabur. Kekurangjelasan asal-usul ini juga sama dgn kegelapan tahun kehidupan Syekh Siti Jenar sebagai manusia sejarah.
Pengaburan tentang silsilah, keluarga dan ajaran Beliau yg dilakukan oleh penguasa muslim pada abad ke-16 hingga akhir abad ke-17. Penguasa merasa perlu untuk “mengubur” segala yg berbau Syekh Siti Jenar akibat popularitasnya di masyarakat yg mengalahkan dewan ulama serta ajaran resmi yg diakui Kerajaan Islam waktu itu. Hal ini kemudian menjadi latar belakang munculnya kisah bahwa Syekh Siti Jenar berasal dari cacing.
Dalam sebuah naskah klasik, cerita yg masih sangat populer tersebut dibantah secara tegas,
Wondene kacariyos yen Lemahbang punika asal saking cacing, punika ded, sajatosipun inggih pancen manungsa darah alit kemawon, griya ing dhusun Lemahbang.” [Adapun diceritakan kalau Lemahbang (Syekh Siti Jenar) itu berasal dari cacing, itu salah. Sebenarnya ia memang manusia berdarah kecil saja (rakyat jelata), bertempat tinggal di desa Lemah Abang]….<serat Candhakipun Riwayat jati ; Alih aksara; Perpustakaan Daerah Propinsi Jawa Tengah, 2002, hlm. 1>
Jadi Syekh Siti Jenar adalah manusia lumrah hanya memang ia walau berasal dari kalangan bangsawan setelah kembali ke Jawa menempuh hidup sebagai petani, yg saat itu, dipandang sebagai rakyat kecil oleh struktur budaya Jawa, disamping sebagai wali penyebar Islam di Tanah Jawa.
Syekh Siti Jenar yg memiliki nama kecil San Ali dan kemudian dikenal sebagai Syekh ‘Abdul Jalil adalah putra seorang ulama asal Malaka, Syekh Datuk Shaleh bin Syekh ‘Isa ‘Alawi bin Ahmadsyah Jamaludin Husain bin Syekh ‘Abdullah Khannuddin bin Syekh Sayid ‘Abdul Malikal-Qazam. Maulana ‘Abdullah Khannuddin adalah putra Syekh ‘Abdul Malik atau Asamat Khan. Nama terakhir ini adalah seorang Syekh kalangan ‘Alawi kesohor di Ahmadabad, India, yg berasal dari Handramaut. Qazam adalah sebuah distrik berdekatan dgn kota Tarim di Hadramaut.
Syekh ‘Abdul Malik adalah putra Syekh ‘Alawi, salah satu keluarga utama keturunan ulama terkenal Syekh ‘Isa al-Muhajir al-Bashari al-‘Alawi, yg semua keturunannya bertebaran ke berbagai pelosok dunia, menyiarkan agama Islam. Syekh ‘Abdul Malik adalah penyebar agama Islam yg bersama keluarganya pindah dari Tarim ke India. Jika diurut keatas, silsilah Syekh Siti Jenar berpuncak pada Sayidina Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib, menantu Rasulullah. Dari silsilah yg ada, diketahui pula bahwa ada dua kakek buyutnya yg menjadi mursyid thariqah Syathariyah di Gujarat yg sangat dihormati, yakni Syekh Abdullah Khannuddin dan Syekh Ahmadsyah Jalaluddin. Ahmadsyah Jalaluddin setelah dewasa pindah ke Kamboja dan menjadi penyebar agama Islam di sana.
Adapun Syekh Maulana ‘sa atau Syekh Datuk ‘Isa putra Syekh Ahmadsyah kemudian bermukim di Malaka. Syekh Maulana ‘Isa memiliki dua orang putra, yaitu Syekh Datuk Ahamad dan Syekh Datuk Shaleh. Ayah Syekh Siti Jenar adalah Syekh Datuk Shaleh adalah ulama sunni asal Malaka yg kemudian menetap di Cirebon karena ancaman politik di Kesultanan Malaka yg sedang dilanda kemelut kekuasaan pada akhir tahun 1424 M, masa transisi kekuasaan Sultan Muhammad Iskandar Syah kepada Sultan Mudzaffar Syah. Sumber-sumber Malaka dan Palembang menyebut nama Syekh Siti Jenar dgn sebutan Syekh Jabaranta dan Syekh ‘Abdul Jalil.
Pada akhir tahun 1425, Syekh Datuk Shaleh beserta istrinya sampai di Cirebon dan saat itu, Syekh Siti Jenar masih berada dalam kandungan ibunya 3 bulan. Di Tanah Caruban ini, sambil berdagang Syekh Datuk Shaleh memperkuat penyebaran Islam yg sudah beberapa lama tersiar di seantero bumi Caruban, besama-sama dgn ulama kenamaan Syekh Datuk Kahfi, putra Syehk Datuk Ahmad. Namun, baru dua bulan di Caruban, pada tahun awal tahun 1426, Syekh Datuk Shaleh wafat.
Sejak itulah San Ali atau Syekh Siti Jenar kecil diasuh oleh Ki Danusela serta penasihatnya, Ki Samadullah atau Pangeran Walangsungsang yg sedang nyantri di Cirebon, dibawah asuhan Syekh datuk Kahfi.
Jadi walaupun San Ali adalah keturunan ulama Malaka, dan lebih jauh lagi keturunan Arab, namun sejak kecil lingkungan hidupnya adalah kultur Cirebon yg saat itu menjadi sebuah kota multikultur, heterogen dan sebagai basis antarlintas perdagangan dunia waktu itu.
Saat itu Cirebon dgn Padepokan Giri Amparan Jatinya yg diasuh oleh seorang ulama asal Makkah dan Malaka, Syekh Datuk Kahfi, telah mampu menjadi salah satu pusat pengajaran Islam, dalam bidang fiqih dan ilmu ‘alat, serta tasawuf. Sampai usia 20 tahun, San Ali mempelajari berbagai bidang agama Islam dgn sepenuh hati, disertai dgn pendidikan otodidak bidang spiritual.
Sumber http://yuliano.vox.com/library/post/asal-usul-syekh-siti-jenar.html
Nasab Syekh Siti Jenar Bersambung Sampai ke Rasulullah  diakui oleh Robithoh Azmatkhan
Abdul Jalil Syeikh Siti Jenar bin
1. Datuk Shaleh bin
2. Sayyid Abdul Malik bin
3. Sayyid Syaikh Husain Jamaluddin @ Jumadil Qubro @ Jamaluddin Akbar Al-Khan (Gujarat, India) bin
4. Sayyid Ahmad Shah Jalal @ Ahmad Jalaludin Al-Khan bin
5. Sayyid Abdullah AzhmatKhan (India) bin
6. Sayyid Amir ‘Abdul Malik Al-Muhajir AzhmatKhan (Nasrabad) bin
7. Sayyid Alawi Ammil Faqih (Hadhramaut, Yaman) bin
8. Muhammad Sohib Mirbath (lahir di Hadhramaut, Yaman dimakamkan di Oman) bin
9. Sayyid Ali Kholi’ Qosim bin
10. Sayyid Alawi Ats-Tsani bin
11. Sayyid Muhammad Sohibus Saumi’ah bin
12. Sayyid Alawi Awwal bin
13. Sayyid Al-Imam ‘Ubaidillah bin
14. Ahmad al-Muhajir (Hadhramaut, Yaman ) bin
15. Sayyid ‘Isa Naqib Ar-Rumi (Basrah, Iraq) bin
16. Sayyid Muhammad An-Naqib bin
17. Sayyid Al-Imam Ali Uradhi bin
18. Sayyidina Ja’far As-Sodiq (Madinah, Saudi Arabia) bin
19. Sayyidina Muhammad Al Baqir bin
20. Sayyidina ‘Ali Zainal ‘Abidin {menikah dengan (34.a) Fathimah binti (35.a) Sayyidina Hasan bin Ali bin Abi Tholib, kakak Imam Hussain} bin
21. Al-Imam Sayyidina Hussain bin
(22.a) Imam Ali bin (23.a)Abu Tholib dan (22.b) Fatimah Az-Zahro binti (23.b) Muhammad SAW
Tentang Silsilah ke-atas dr Syeikh Siti Jenar dan para walisongo lainnya sudah diakui oleh para ulama nasab dari Yaman, Malaysia dan Thailand..para sayyid dan kalangan habaib yg memahami ilmu nasab banyak yg mencantumkannya di bawah nama fam. Azmatkhan, dan sudah menulis beberapa kitab mengenai ini, dan diakui Robithoh Alawiyah, Naqobatul Asyrof dan Robithoh Azmatkhan ..(Tentunya disini tidak ada nama tokoh pewayangan) untuk keterangan lebih lanjut bisa buka situs www.azmatkhanalhusaini.com dan bisa tanya jawab dengan Kyai Ali bin Badri selaku pengurusnya …wassalam